Sunday, September 8, 2013

Roda yang Berputar



Roda yang Berputar
By : Anggi Diah.P
Ketika butiran-butiran embun menghiasi hijaunya dedaunan. Dan ketika mentari menyapaku dengan sinar hangatnya. Disaat itu pula aku terbangun dari mimpi-mimpi ku malam ini. Entah mengapa kedua bola mataku langsung tertuju pada foto seorang wanita yang menempel di dinding kamarku. Aku biasa memanggil wanita itu dengan sebutan Mama. Foto itu seakan menghipnotis fikiranku untuk mengingat memori 4 tahun yang lalu. Memori yang selalu menghantuiku. Memori yang selalu membuat tetes air mata menghiasi pipiku. Dan memori itu tidak akan pernah bisa hilang dari fikiranku sampai saat ini.
            Tepatnya waktu aku masih kelas 5 SD, 4 tahun yang lalu. Mama ku, Mama yang sangat aku cinta, Mama yang selalu aku rindukan, dan Mama yang selalu ada untukku begitu pula dengan Ayahku tercinta. Mama dan Ayahku membangun keluarga yang sangat harmonis, tentram, dan bisa di bilang serba berkecukupan. Tetapi sampai pada suatu hari semuanya berubah.

            Semuanya berubah ketika mamaku telah dinyatakan terkena kanker kulit, dan tumor di sekitar leher kiri dan kanannya. Mama ku tidak memberitahukan penyakitnya itu kepadaku. Sampai disaat mamaku dirawat di rumah sakit, tidak sengaja terdengar di kedua telingaku pembicaraan ayah dan nenek yang membahas tentang penyakit mamaku. Saat itu pun aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan tak kuasa membendung air mata yang sedari tadi telah mengintip di sudut kedua mataku. Hatiku hancur berkeping-keping seperti sebuah gelas kaca yang di jatuhkan di lantai dan pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Hanya peerasaan takut yang memenuhi ruang di dalam hatiku.
            Hari-hari terasa begitu menyebalkan, semuanya hambar, yang ada dalam fikiranku hanya Mama, Mama, dan Mama. Tetapi senyum di pipiku selalu mengembang menutupi derita yang ku alami. Dentingan jam berbunyi, menandakan waktu terus berputar, kian hari leher mamaku kian membesar. Dan hutang keluargaku menumpuk untuk berobat mamaku. Aku tidak kuat melihat penderitaan yang dirasakan mamaku. Aku hanya bisa berdo’a dan menangis meratapi semua ini.
            Peristiwa itu berdampak buruk bagi prestasi yang selama ini aku raih. Aku hanya bisa mendapatkan peringkat 10 besar. “Menyebalkan sekali, seharusnya aku harus lebih pintar dong bukan malah turun kayak gini, kan kasian Mama, kalau aku pintar, mama pasti sembuh.” Itulah celotehku dalam hati. Perasaan sedih, kesal, dan jengkel itulah yang ada di hatiku. Tidur malam pun mataku tidak bisa menutup. Dan sering mengintip mamaku yang rutin melaksanakan shalat tahajud. Setiap hari do’a-do’a terucap di bibir dan hatiku, begitu juga dengan mama ku. Dan ketika meliihat mama ku yang kusyu shalat, air mata kembali menggenang di  pipi cabiku ini.
            Mamaku memutuskan untuk menghentikan pengobatan-pengobatan yang selama ini dijalani mamaku. Mengingat aku pun sudah kelas 6 SD dan mau menuju ke SMP yang memerlukan biaya yang cukup banyak. Aku merasa bersalah akan semua ini.
Aku sayang banget sama mamaku. Sampai suatu malam terlintas mimpi dalam tidurku yang melukiskan mamaku pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dan keesokan harinya aku kaget dan yang ada dalam hatiku hanya “Ya Allah Mamaku, Ya Allah Mamaku”.
“Neeeeek, mama dimana ?” kataku sembari berlari kedapur menghampiri nenek.
“Ya kerja lah Nggi…. Orang mama mu kalau sakit gak mau istirahat, malah maksa buat kerja, kenapa ?” kata nenek sembari menggoreng ikan
“Gakpapa kok nek, aku belum minta uang saku sama mama.” Jawabku bohong.
“Halah, tuh ambil uang di dompet nenek,, di bawah kasur.” Saran nenek.
“I..i..iya nek” jawabku terbata-bata.
Kebohongan itu yang selalu aku ingat dan sekarang aku sudah mengakui kebohonganku itu. Sekarang mamaku sudah sembuh. Dan entahlah sembuh total atau tidak, yang jelas kanker dan tumor yang menyerang mamaku beberapa tahun yang lalu sudah tidak kambuh lagi. Dan sekarang jabatan ayah ku di pabrik menjadi Supervisor, dan mamaku menjadi karyawan tetap di PT.Tjiwi Kimia. Well, hutang-hutang keluargaku pun lama-kelamaan akan tertimbun.
Allah itu baik, mama ku sembuh hanya karena bersabar dan terus melantunkan do’a-do’anya di setiap waktu. Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini. Hidup itu seperti roda yang berputar, terkadang kita berada di bawah dan terkadang kita bisa berada di atas. Bersyukur atas hidup ku saat ini. Karena mungkin ada yang lebih buruk dari kita. Yang penting adalah tetap semangat dan jangan pernah putus asa. Tetap tersenyum dalam keadaan apapun. J

2 comments:

Unknown said...

Bagus nggi sayang banget sama Mamanya ya.....
Anggi komen balik blog ku ya ;)

Unknown said...

iya pasti :)

Post a Comment