Roda yang Berputar
By
: Anggi Diah.P
Ketika
butiran-butiran embun menghiasi hijaunya dedaunan. Dan ketika mentari menyapaku
dengan sinar hangatnya. Disaat itu pula aku terbangun dari mimpi-mimpi ku malam
ini. Entah mengapa kedua bola mataku langsung tertuju pada foto seorang wanita
yang menempel di dinding kamarku. Aku biasa memanggil wanita itu dengan sebutan
Mama. Foto itu seakan menghipnotis fikiranku untuk mengingat memori 4 tahun
yang lalu. Memori yang selalu menghantuiku. Memori yang selalu membuat tetes
air mata menghiasi pipiku. Dan memori itu tidak akan pernah bisa hilang dari
fikiranku sampai saat ini.
Tepatnya waktu aku masih kelas 5 SD, 4 tahun yang lalu.
Mama ku, Mama yang sangat aku cinta, Mama yang selalu aku rindukan, dan Mama
yang selalu ada untukku begitu pula dengan Ayahku tercinta. Mama dan Ayahku
membangun keluarga yang sangat harmonis, tentram, dan bisa di bilang serba
berkecukupan. Tetapi sampai pada suatu hari semuanya berubah.
Semuanya berubah ketika mamaku telah dinyatakan terkena
kanker kulit, dan tumor di sekitar leher kiri dan kanannya. Mama ku tidak
memberitahukan penyakitnya itu kepadaku. Sampai disaat mamaku dirawat di rumah
sakit, tidak sengaja terdengar di kedua telingaku pembicaraan ayah dan nenek
yang membahas tentang penyakit mamaku. Saat itu pun aku melangkahkan kakiku
menuju kamar mandi dan tak kuasa membendung air mata yang sedari tadi telah mengintip
di sudut kedua mataku. Hatiku hancur berkeping-keping seperti sebuah gelas kaca
yang di jatuhkan di lantai dan pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Hanya
peerasaan takut yang memenuhi ruang di dalam hatiku.
Hari-hari terasa begitu menyebalkan, semuanya hambar,
yang ada dalam fikiranku hanya Mama, Mama, dan Mama. Tetapi senyum di pipiku
selalu mengembang menutupi derita yang ku alami. Dentingan jam berbunyi,
menandakan waktu terus berputar, kian hari leher mamaku kian membesar. Dan
hutang keluargaku menumpuk untuk berobat mamaku. Aku tidak kuat melihat
penderitaan yang dirasakan mamaku. Aku hanya bisa berdo’a dan menangis meratapi
semua ini.
Peristiwa itu berdampak buruk bagi prestasi yang selama
ini aku raih. Aku hanya bisa mendapatkan peringkat 10 besar. “Menyebalkan
sekali, seharusnya aku harus lebih pintar dong bukan malah turun kayak gini,
kan kasian Mama, kalau aku pintar, mama pasti sembuh.” Itulah celotehku dalam
hati. Perasaan sedih, kesal, dan jengkel itulah yang ada di hatiku. Tidur malam
pun mataku tidak bisa menutup. Dan sering mengintip mamaku yang rutin
melaksanakan shalat tahajud. Setiap hari do’a-do’a terucap di bibir dan hatiku,
begitu juga dengan mama ku. Dan ketika meliihat mama ku yang kusyu shalat, air
mata kembali menggenang di pipi cabiku
ini.
Mamaku memutuskan untuk menghentikan
pengobatan-pengobatan yang selama ini dijalani mamaku. Mengingat aku pun sudah
kelas 6 SD dan mau menuju ke SMP yang memerlukan biaya yang cukup banyak. Aku
merasa bersalah akan semua ini.
Aku sayang banget sama
mamaku. Sampai suatu malam terlintas mimpi dalam tidurku yang melukiskan mamaku
pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dan keesokan harinya aku kaget dan
yang ada dalam hatiku hanya “Ya Allah Mamaku, Ya Allah Mamaku”.
“Neeeeek, mama dimana
?” kataku sembari berlari kedapur menghampiri nenek.
“Ya kerja lah Nggi….
Orang mama mu kalau sakit gak mau istirahat, malah maksa buat kerja, kenapa ?”
kata nenek sembari menggoreng ikan
“Gakpapa kok nek, aku
belum minta uang saku sama mama.” Jawabku bohong.
“Halah, tuh ambil uang
di dompet nenek,, di bawah kasur.” Saran nenek.
“I..i..iya nek” jawabku
terbata-bata.
Kebohongan itu yang
selalu aku ingat dan sekarang aku sudah mengakui kebohonganku itu. Sekarang
mamaku sudah sembuh. Dan entahlah sembuh total atau tidak, yang jelas kanker
dan tumor yang menyerang mamaku beberapa tahun yang lalu sudah tidak kambuh
lagi. Dan sekarang jabatan ayah ku di pabrik menjadi Supervisor, dan mamaku
menjadi karyawan tetap di PT.Tjiwi Kimia. Well, hutang-hutang keluargaku pun
lama-kelamaan akan tertimbun.
Allah itu baik, mama ku
sembuh hanya karena bersabar dan terus melantunkan do’a-do’anya di setiap
waktu. Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini. Hidup itu seperti roda
yang berputar, terkadang kita berada di bawah dan terkadang kita bisa berada di
atas. Bersyukur atas hidup ku saat ini. Karena mungkin ada yang lebih buruk dari
kita. Yang penting adalah tetap semangat dan jangan pernah putus asa. Tetap
tersenyum dalam keadaan apapun. J
2 comments:
Bagus nggi sayang banget sama Mamanya ya.....
Anggi komen balik blog ku ya ;)
iya pasti :)
Post a Comment